Pentingnya Pendidikan Menurut Perspektif Hadits

By : Patma Aulia

#Mahasiswa Pendidikan Agama Islam ( Universitas Islam Negeri Sumatera Utara )

Perspektif Hadits Rasulullah SAW Mengenai Pentingnya Pendidikan Serta Metode Rasulullah Dalam Mendidik Para Sahabat

1. a Hadits Pentingnya Pendidikan Berdasarkan Hadits Rasulullah SAW

Hadits Anjuran Menuntut Ilmu


حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ يُحَدِّثُ عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيلٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّي جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَزِيرِ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ قَالَ لَقِيتُ شَبِيبَ بْنَ  شَيْبَةَ فَحَدَّثَنِي بِهِ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي سَوْدَةَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ يَعْنِي عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ    

Telah menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Daud, Aku mendengar 'Ashim bin Raja' bin Haiwah menceritakan dari Daud bin Jamil dari Katsir bin Qais, ia berkata, "Aku pernah duduk bersama Abu Ad Darda' di masjid Damaskus. Kemudian datanglah seseorang kepadanya seraya berkata, "Wahai Abu Ad Darda', sesungguhnya aku datang kepadamu dari kota Rasulullah ﷺ karena sebuah hadis yang telah sampai kepadaku bahwa engkau pernah meriwayatkannya dari Rasulullah ﷺ. Dan tidaklah aku datang melainkan untuk itu." Abu Ad Darda' lalu berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Barang siapa yang meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudah untuknya jalan menuju surga. Sesungguhnya para Malaikat merendahkan sayap-sayapnya sebagai keridhaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang ada di dasar laut. Keutamaan seorang yang berilmu dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama terhadap seluruh bintang-bintang. Orang-orang berilmu adalah ahli waris para Nabi. Dan para Nabi tidak mewariskan dinar maupun dirham, namun yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Barang siapa yang menuntutnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak." Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Wazir Ad Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Al Walid, ia berkata, Aku berjumpa dengan Syabib bin Syaibah, lalu ia menceritakannya   kepadaku dari Utsman bin Abi Saudah dari Abu Ad Darda' dari Nabi ﷺ dengan maknanya."

(Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi as-Sijistani, Ensikopedia Hadits 5; Sunan Abu Dawud, Jakarta : Penerbit Almahira House Of Almahira, 2013, Cetakan 1)

Penjelasan : 
    Hadits ini merupakan hadits yang mengungkapkan bahwa pentingnya pendidikan bagi setiap muslim, karena hadits ini menjelaskan tentang anjuran untuk menuntut ilmu. Kaitannya dengan pentingnya pendidikan adalah karena pendidikan adalah salah satu jalan menuntut ilmu yang dengan menuntut ilmu itu Allah akan nenpermudah jalan seseorang menuju surga. Dimana, tujuan akhir dari hidup seorang muslim adalah menjadi hamba yang diridhoi dan tentunya mendapatkan rahmat untuk masuk ke dalam surga-Nya. Dimana, dalam hadits mengatakan bahwa para malaikat merendahkan sayap-sayapnya sebagai keridhaan kepada penuntut ilmu, dan orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi sampai pun ikan yang ada di dasar laut. Orang berilmu juga lebih utama daripada ahli ibadah dan orang yang memiliki ilmu termasuk orang yang mendapat warisan dari Nabi yang barangsiapa menuntutnya, maka orang tersebut telah mengambil bagian yang banyak. 
    Jadi, terlihat jelas bahwa pendidikan itu sangat penting, karena dengan pendidikan seseorang akan dimudahkan Allah jalannya menuju syurga dan mendapatkan keutamaan-keutamaan lainnya yang mulia disisi Allah.

1.b Metode Nasehat Salah Satu Metode Rasulullah Dalam Mendidik Para Ummat

Hadits Tentang Bersikap Qana'ah


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ الْأَصَمِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ إِنَّمَا يَنْظُرُ إِلَى أَعْمَالِكُمْ وَقُلُوبِكُمْ

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinan, telah menceritakan kepada kami Katsir bin Hisyam, telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Burqan, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Al Asham dari Abu Hurairah yang dimarfu'kan kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia hanya memandang kepada amal dan hati kalian."

( Abu Abdullah Muhammad bin Yazid Al-Qazwini Ibnu Majah, Ensiklopedia Hadis 8; Sunan Ibnu Majah, Jakarta: Penerbit Almahira House of Almahira, 2013, cet 1)

Penjelasan Hadits :
Hadits ini merupakah salah satu hadits yang merujuk pada metode Rasulullah SAW dalam mendidik para ummatnya, yaitu dengan menggunakan metode nasehat. Dimana, dalam cuplikan hadits ini memberikan pesan nasehat kepada ummatnya bahwa Allah tidak melihat atau menilai hamba-Nya dari segi rupa dan harta benda. Namun, Allah itu memandang atau menilai baik-buruknya, mulia-hinanya, buruk-indahnya itu dengan melihat pada amal dan hati seorang hamba-Nya. Jadi, Nasehat ini memberikan pesan bagi kita bahwa marilah kita berlomba-lomba dalam perlombaan menjadi hamba yang baik dalam pandangan Allah dengan cara berlomba-lomba dalam memperbanyak dan ikhlas dalam beramal serta tak lupa memperbaiki sekaligus sibuk memperkaya hati. Bukan dengan berlomba-lomba d mempercantik rupa dan sibuk memperbanyak harta, sehingga lupa dan melalaikan kewajiban kepada Allah, sang pencipta.


2.a Rasulullah Sebagai Uswatun Hasanah Sebagai Seorang Pendidik/Guru

Contoh Teladan dari Rasulullah SAW Sebagai Seorang Guru

Rasulullah SAW merupakan seorang yang sempurna dijadikan figur sekaligus uswah atau teladan sebagai seorang pendidik, Rasulullah SAW adalah sosok pendidik yang sangat fenomenal sepanjang sejarah yang mampu menawarkan dan memberikan berbagai konsep-konsep pendidikan sebagai problem solving atas problematika umat, dan sampai sekarang konsep-konsep itu selalu relevan denagn situasi dan perkembangan zaman. Tidak ada keraguan bagi kita untuk meneladani Rasulullah SAW, sehingga tak dapat dipungkiri  beliau adalah sosok yang berhasil mendidik para sahabatnya dan tentunya ummatnya yang meneladani sosok akhlaknya. Beliau merupakan sosok suri tauladan disetiap sudut kehidupan ummatnya, termasuk juga dalam hal mendidik. Beliau adalah seorang guru yang memberikan contoh teladan yang baik baik kepada ummatnya. Maka, sudah sepantasnya kita sebagai seorang calon guru masa depan untuk mengidentifikasi dan meneladani Rasulullah dalam mendidik.


Pertama, Rasulullah adalah sosok guru  yang memberikan teladan sebagai guru yang sangat penyayang  dan lemah lembut  

Nabi Muhammad SAW adalah seorang pendidik yang berkepribadian mulia dan teladan bagi setiap orang yang berguru dan mencari petunjuk. Sikapnya yang penuh dengan kedamaian dan hatinya yang penuh kelembutan dalam mendidik menjadikannya sebaik- baik figure teladan yang baik dalam setiap sudut dan aspek kehidupan Rasululullah SAW. Rasululullah sebagai seorang yang penyayang dalam setiap tindakannya kepada siapa saja, baik kepada keluarga, sahabat dan siapa saja. 


Sebagai seorang yang penyayang, ini adalah cuplikan hadits yang menggambarkan bahwa Rasulullah memberikan keteladanan bahwa Rasulullah adalah seorang yang penyayang. 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ وَابْنِ عَجْلَانَ سَمِعَا عَامِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ يُحَدِّثُ عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ النَّاسَ وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ وَهِيَ ابْنَةُ زَيْنَبَ بِنْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَاتِقِهِ فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا وَإِذَا رَفَعَ مِنْ السُّجُودِ أَعَادَهَا

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abi Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Utsman bin Abi Sulaiman dan Ibnu 'Ajlan keduanya mendengar Amir bin Abdullah bin az-Zubair bercerita dari Amru bin Sulaim az-Zuraqi dari Abu Qatadah al-Anshari dia berkata, "Saya melihat Nabi ﷺ mengimami salat orang-orang sambil menggendong Umamah binti Abu al-'Ash, bayi Zainab binti Muhammad ﷺ di atas pundak beliau. Apabila beliau rukuk maka beliau meletakkan bayi itu, dan apabila beliau berdiri dari sujud maka mengembalikannya (maksudnya menggendongnya kembali)." 

(Muslim bin Al-Hajjaj Al- Qusyairi An-Naisaburi, Ensiklopedia Hadis 4; Shahih Muslim 2, Jakarta Timur: Penerbit Almahira, 2012, cet 1 )


Hadits ini menunjukkan dan menampilkan kepada kita sikap penyayangnya Rasululullah,  betapa sayangnya Rasululullah kepada cucunya, bahkan dalam sholatpun Rasul sebagai seorang pendidik selalu menampilkan keteladanan- keteladanan yang menyentuh hati para peserta didiknya. Dengan hal itu, dalam hadits diatas sahabat secara tidak langsung mendapatkan ilmu, yaitu tentang sikap kasih sayang . Rasulullah dalam mendidik selalu menampilkan dan memberikan keteladanan atau uswah kepada peserta didik secara tidak langsung. Hal ini lah yang menjadikan Rasul menjadi pendidik yang berhasil dalam setiap sudut pembelajaran hidup.


Kemudian dalam suatu hadits, Rasululullah menampilkan sikap yang lemah lembut sebagai seorang pendidik, Berikut cuplikan hadits yang menggambarkan sikap lemah lembutnya Rasul 

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَهُ النَّاسُ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعُوهُ وَهَرِيقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلًا مِنْ مَاءٍ أَوْ ذَنُوبًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِثْتُمْ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ

Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri berkata, telah mengabarkan kepadaku 'Ubaidullah bin 'Abdullah bin 'Utbah bin Mas'ud bahwa Abu Hurairah berkata, "Seorang Arab Badui berdiri dan kencing di Masjid, lalu orang-orang ingin mengusirnya. Maka Nabi ﷺ pun bersabda kepada mereka, "Biarkanlah dia dan siramlah bekas kencingnya dengan setimba air, atau dengan seember air, sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk membuat kesulitan."

(Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Ensiklopedia Hadis 2: Shahih Al-Bukhari 2, Jakarta Timur: Penerbit Almahira, 2012, cet 1)

Penjelasan hadits : Bahwa Rasulullah tidak pernah marah sekalipun kesalahan itu layak untuk menimbulkan respon kemarahan. Sikap beliau pada hadits ini menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang berlemah lembut dan tidak ingin mempersulit urusan orang lain.

Kedua, Rasulullah selalu memberikan contoh langsung/ praktek dalam mendidik serta sabar dalam mendidik. 

Rasululullah tidak hanya mengajarkan dengan kata-kata, tetapi juga dengan perbuatan. Beliau memberikan contoh yang nyata dalam kehidupan sehari-hari tentang bagaimana berperilaku sesuai dengan ajaran islam, mulai dari ibadah, akhlak, hingga interaksi sosial. Misalnya, Rasulullah menunjukkan bagaimana cara adzan, sholat, bagaimana berbicara dengan sopan serta menjaga hubungan baik dengan keluarga ataupun tentang  Hal tersebut diupayakan oleh Rasululullah SAW agar memang murid-muridnya paham dan mengerti tentang pengajaran ataupun ilmu tersebut secara benar. Dan Rasul juga bersikap sabar ketika para muridnya tidak paham terhadap ilmu yang disampaikan Rasul. Rasul dengan segala upaya dan kecerdasannya sabar dengan memberikan pengulangan atau memberikan perumpamaan-perumpamaan agar muridnya lebih paham terhadap ilmu atau materi yang diajarkannya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ أَبِي مَحْذُورَةَ يَعْنِي عَبْدَ الْعَزِيزِ عَنْ ابْنِ مُحَيْرِيزٍ عَنْ أَبِي مَحْذُورَةَ قَالَ أَلْقَى عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ التَّأْذِينَ هُوَ بِنَفْسِهِ فَقَالَ قُلْ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ قَالَ ثُمَّ ارْجِعْ فَمُدَّ مِنْ صَوْتِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abdil Malik bin Abi Mahdzurah, yakni Abdul Aziz dari Ibnu Muhairiz dari Abu Mahdzurah dia berkata, Rasulullah telah mengajarkan cara azan kepadaku, langsung dari beliau sendiri, beliau bersabda, "Ucapkanlah: Allaahu akbar Allaahu akbar, Allaahu akbar Allaahu akbar, Asyhadu an laa ilaaha illallaah, Asyhadu an laa ilaaha illallaah, Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah, Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah, Dua kali dua kali. beliau meneruskan: Kemudian ulangilah, lalu panjangkan suaramu, Asyhadu an laa ilaaha Illallaah, Asyhadu an laa ilaaha illallaah, Asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, Hayya 'alas shalaah hayya 'alas shalaah, hayya 'alal falaah, Hayya 'alal falaah, Allaahu akbar Allaahu akbar, Laa ilaa illallaah.

(Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi as-Sijistani, Ensikopedia Hadits 5; Sunan Abu Dawud,, Jakarta : Penerbit Almahira House Of Almahira, 2013, Cetakan 1)

Penjelasan hadits : Dalam hadits ini, Rasulullah mendidik para sahabat dengan cara mempraktikan langsung agar para sahabat paham dengan ilmu yang diajarkan Rasulullah sebagai seorang pendidik kepada para muridnya. Dengan metode ini, Rasulullah menggambarkan teladan yang baik menjadi seorang guru, karena beliau mengajarkan bukan hanya dengan kata-kata. Namun, dipraktekkan langsung demi pahamnya para murid mengenai cara adzan yang baik dalam hadits ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Inspiratif Dua Alumni FITK UIN Sumatera Utara