Kisah Inspiratif Dua Alumni FITK UIN Sumatera Utara
by: Patma Aulia
#Mahasiswi Pendidikan Agama Islam, UIN Sumatera Utara
Dua Jalan, Satu Almamater : Perjalanan Inspiratif Alumni FITK yang Menemukan Makna Hidup Melalui Jalannya Masing-Masing
Ada banyak kisah yang tersembunyi di balik wajah-wajah alumni yang berjalan keluar dari gerbang kampus. Ada impian yang diwujudkan, ada yang berubah karena keadaan, dan ada pula yang menemukan takdir baru yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Namun satu hal pasti: setiap perjalanan membawa pelajaran yang tak ternilai. Perjalanan hidup setiap alumni selalu meninggalkan jejak yang berbeda-beda. Ada yang sudah tahu ke mana langkahnya sejak awal kuliah, ada yang menemukan arah baru setelah melewati banyak pengalaman, dan ada yang tiba-tiba diarahkan Allah pada jalan yang bahkan tak pernah terpikirkan sebelumnya. Namun di balik semua keragaman itu, ada satu titik temu yang menyatukan mereka: masa-masa yang ditempa di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Dari sinilah mereka belajar bahwa pendidikan bukan sekadar ilmu, tetapi karakter, kepekaan sosial, dan nilai spiritual yang mengarahkan langkah.
Bagi banyak alumni, langkah keluar dari gerbang kampus bukanlah akhir, tetapi awal dari perjalanan panjang menuju kedewasaan hidup. FITK telah melahirkan banyak pendidik, penggerak masyarakat, dan pribadi yang memegang teguh etika. Meski jalan yang ditempuh berbeda, ada yang tetap menjadi pendidik dan ada yang beralih profesi, nilai Tarbiyah tetap menjadi kompas moral yang tidak pernah hilang. Dua kisah alumni berikut memperlihatkan betapa luasnya ruang pengabdian seorang lulusan Tarbiyah, dan betapa dalam makna yang mereka bawa dalam setiap pilihan hidupnya.
Begitu pula kisah dua alumni Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sumatera Utara yang satu ini. Mereka berasal dari generasi berbeda, hidup dalam suasana kampus yang berbeda, berhadapan dengan tantangan zaman yang berbeda pula. Tetapi keduanya sama-sama menanamkan nilai yang sama dalam hidup mereka: nilai Tarbiyah. Mari kita tengok lebih dalam perjalanan Alya Zahro Azhari dan Nur Aini, dua perempuan hebat yang menunjukkan bahwa alumni FITK dapat berkiprah di mana saja, dalam bentuk apa saja, tanpa kehilangan nilai-nilai pendidik dan keislaman yang melekat dalam diri mereka.
1. Alya Zahro Azhari: Menapaki Jalan sebagai Guru TK dengan Keteguhan, Kreativitas, dan Jiwa Pengabdian
Alya tumbuh dengan mimpi sederhana: ingin menjadi guru. Namun seiring waktu, mimpi itu berkembang menjadi prinsip hidup. Ia tidak hanya ingin mengajar, ia ingin memberi dampak bagi generasi paling dini dalam pendidikan. Keputusan memilih PIAUD bukan karena tren, tetapi karena ia percaya bahwa membangun fondasi karakter sejak usia 4–6 tahun memiliki nilai yang sangat besar bagi masa depan anak-anak. Semangat inilah yang menguatkan langkahnya ketika ia memasuki dunia pendidikan formal.
Sebagai guru TK, Alya menyadari bahwa ia bukan sekadar pengajar, melainkan pendamping tumbuh kembang anak. Setiap hari adalah kombinasi antara kreativitas dan kesabaran. Setiap anak memiliki karakter unik, dan ia hadir sebagai sosok yang memahami perbedaan itu dengan hati lapang. Mengajar bukan rutinitas baginya, tetapi usaha sungguh-sungguh untuk memastikan bahwa setiap anak merasa aman, dicintai, dan semangat untuk belajar. Di sinilah pengabdian Alya benar-benar menemukan bentuknya. Alya bukan hanya memiliki cita-cita menjadi guru, ia hidup dalam cita-cita itu sejak kecil. Sejak usia belia, sosok guru sudah menjadi panutan dan gambaran masa depannya. Bukan karena tuntutan keluarga, bukan pula karena ikut-ikutan teman. Namun karena ada keyakinan yang tumbuh dalam hatinya bahwa menjadi seorang pendidik adalah jalan pengabdian yang tinggi nilainya di sisi Allah.
Dunia Kampus yang Membentuk Karakter dan Keilmuannya
Ketika melangkah ke UIN Sumatera Utara sebagai mahasiswa PIAUD pada tahun 2019, Alya seperti menemukan rumah baru. Ia mempelajari perkembangan anak usia dini, memahami psikologi anak, mempelajari metode bermain sambil belajar, serta ikut dalam praktik lapangan yang membuka matanya terhadap dunia nyata di sekolah.
Bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui aktivitas organisasi. Saat ia bergabung dengan Lembaga Dakwah Kampus Al-Izzah, cakrawala berpikirnya melebar. Ia belajar bagaimana memimpin, menyampaikan pesan, mengatur program, menghadapi audiens, dan menjadi muslimah yang teguh prinsip. Di sinilah karakter pendidiknya benar-benar terbentuk.
Lulus Kuliah, Masuk Dunia Kerja: Ketika Teori dan Realitas Beradu
Setelah lulus pada 2023, Alya langsung diterima sebagai guru TK. Sambutan hangat anak-anak kecil, suara mereka yang riang, dan kepolosan mereka seolah menjadi energi yang memberi kekuatan setiap hari. Namun perjalanan tidak selalu mudah., ada anak-anak yang tidak mau bekerja sama. Ada yang tantrum. Ada yang manja. Ada pula orang tua yang terlalu menuntut. Administrasi sekolah kadang menumpuk. Jadwal kegiatan serba cepat. Tantangannya begitu nyata, dan sering berbeda dari apa yang pernah tertulis di buku-buku kuliah.
Tetapi justru di situlah Alya tumbuh.
Perjumpaannya dengan dunia kerja membuatnya semakin matang sebagai pendidik. Administrasi yang menumpuk, jadwal kegiatan yang padat, dan tuntutan orang tua murid terkadang membuat lelah. Namun justru melalui itu semua, ia belajar untuk mengatur waktu, memperjelas prioritas, dan tetap tenang dalam tekanan.
Daripada mengeluh, ia mencari metode baru, membuat media belajar kreatif, mengikuti webinar pendidikan anak, bahkan menciptakan permainan edukatif sendiri. Ia ingin anak-anak belajar dengan gembira, bukan terpaksa. Perlahan, ia menemukan ritme profesinya dan menjadi guru yang dicintai murid-muridnya.
Mengajar Bagi Alya Bukan Sekadar Profesi , Tapi Jalan Hidup
Alya menyadari bahwa menjadi guru PAUD adalah profesi yang tidak akan pernah selesai dipelajari.
Ia bukan hanya mengajar alfabet, warna, angka, atau huruf. Ia membentuk karakter anak. Ia menanamkan dasar akhlak. Ia menjadi bagian dari masa depan generasi baru.
“Bekerja sebagai guru usia dini membuat saya bahagia. Setiap perkembangan kecil yang terlihat di mata saya adalah hadiah besar.” Ucap Alumni PIAUD itu
Kesadaran inilah yang membuat Alya menjalani profesinya dengan sepenuh hati. Ia tidak ingin hanya menjadi guru yang mengajar, tetapi guru yang membentuk karakter. Guru yang bukan hanya diingat, tetapi dirindukan. Guru yang bukan hanya mengajarkan angka, tetapi menanamkan nilai akhlak. Inilah yang menjadikan Alya bukan sekadar pendidik PAUD, melainkan inspirasi bagi generasi alumni FITK lainnya. Alya adalah cerminan alumni FITK yang matang, lengkap, dan penuh dedikasi. Ia lahir dari mimpi yang istiqamah, tumbuh dari proses yang panjang, dan kini mewakili generasi guru masa kini yang kreatif, adaptif, dan penuh kasih.
2. Nur Aini: Menjalani Hidup dengan Fleksibilitas, Nilai Keikhlasan, dan Ketangguhan sebagai Ibu, Sebagai yang Pernah Mengabdi Sebagai Guru, dan Wirausahawan
Nur Aini adalah gambaran perempuan Tarbiyah yang kuat namun tetap lembut, sederhana namun penuh wibawa. Ia menjalani hidup dengan prinsip bahwa perubahan bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi dijalani dengan lapang hati. Ketika dunia kampus telah memberikan landasan ilmu dan nilai-nilai moral, dunia nyata mengajarkannya tentang keteguhan, tanggung jawab, dan kesanggupan untuk mengambil keputusan besar demi keluarga. Dalam setiap fase hidupnya, ia selalu memegang satu hal yang sama: keikhlasan sebagai inti dari segala usaha.
Perjalanannya menunjukkan bahwa menjadi alumni FITK bukan berarti harus menjalani satu jenis profesi saja. Ketika ia meninggalkan profesi guru untuk fokus pada rumah tangga, ia tidak meninggalkan kesadarannya sebagai pendidik. Ia mendidik anak-anaknya dengan nilai agama yang kuat, menjaga rumah tangganya dengan ilmu yang ia peroleh, dan tetap membuka ruang untuk bermanfaat bagi sesama. Dan ketika ia memilih menjadi wirausahawan, ia melakukannya dengan membawa etika Tarbiyah yang tidak pernah pudar.
Jika Alya adalah cerminan generasi pendidik masa modern, maka Nur Aini adalah cerminan generasi Tarbiyah awal 2000-an, masa ketika kampus masih sederhana, fasilitas belum seperti hari ini, tetapi semangat belajar tak pernah padam.
Masa Studi yang Penuh Keheningan Akademik dan Kedekatan Emosional
Nur Aini memasuki IAIN Sumatera Utara pada tahun 2001, ketika teknologi belum menjadi bagian penting dalam pendidikan. Tidak ada sistem online, tidak ada layanan digital, dan hampir semua kegiatan dikendalikan secara manual. Namun suasana akademik justru sangat hidup. Di masa itu, setiap tugas dikerjakan dengan penuh kesungguhan karena semuanya serba manual: mengetik di warnet, memfotokopi materi tebal, hingga mencatat panjang di buku tulis. Proses ini melatih kesabaran dan kedisiplinan. Lebih dari itu, suasana kampus yang hangat menciptakan rasa kebersamaan yang sulit ditemukan di era digital. Nur Aini tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan pentingnya saling membantu, belajar bersama, dan menghormati guru sebagai pengarah, bukan sekadar pemberi nilai.
Ia mengenang masa itu sebagai masa yang paling membekas:
* interaksi intens dengan dosen,
* diskusi hangat antarmahasiswa,
* tugas-tugas yang dikerjakan bersama,
* suasana kampus yang hangat dan kekeluargaan.
Pada 2005, ia menyelesaikan pendidikan dengan penuh rasa bangga dan keluar sebagai pendidik agama.
Menjadi Guru MTs: Pengabdian Awal yang Paling Manis
Pekerjaan pertamanya adalah menjadi guru di MTs. Di sinilah ia merasakan manisnya menjadi pendidik: memberi nasihat, membentuk akhlak remaja, mengajarkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ia merasa berada di jalur yang tepat, jalur yang sejalan dengan ilmu yang ia pelajari. Ketika mengajar di MTs, Nur Aini merasakan bahwa profesi guru adalah profesi yang memberi kebahagiaan yang tidak ditemukan di tempat lain. Ia berhadapan dengan siswa-siswa remaja yang masih mencari jati diri, yang terkadang keras, terkadang lembut, dan sering kali penuh pertanyaan tentang hidup. Mengajar mereka bukan hanya soal memberikan materi, tetapi menyentuh hati mereka. Ia menjadi tempat bertanya, tempat curhat, dan role model dalam banyak hal.
Setiap hari ia masuk kelas dengan niat yang sama: membantu generasi muda memahami agama bukan sebagai beban, tetapi sebagai cahaya yang membimbing. Ia menikmati proses melihat siswa-siswanya berkembang, memperbaiki akhlak, dan semakin mencintai ilmu. Baginya, profesi ini memberikan pengalaman paling manis sebagai alumni Tarbiyah, karena ia bisa melihat langsung dampak dari kata-katanya yang sederhana hingga nasihat-nasihat kecil yang diingat murid bertahun-tahun kemudian. Namun hidup sering membawa seseorang pada persimpangan tak terduga.
Ketika Jalan Hidup Berubah Arah
Namun hidup tidak selalu berjalan sebagaimana harapan. Ketika memasuki kehidupan pernikahan, Nur Aini menghadapi dilema yang tidak mudah: melanjutkan karier sebagai guru atau memberikan fokus penuh kepada keluarga. Akhirnya ia memilih keluarga, bukan karena menyerah pada profesi, tetapi karena memahami bahwa setiap perempuan memiliki fase yang membutuhkan prioritas dan pertimbangan hati. Keputusannya untuk berhenti mengajar bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal babak baru yang penuh tantangan.
Menjadi ibu penuh waktu menuntut kesabaran yang lebih besar dibanding mengajar di sekolah. Ia belajar bahwa mendidik anak-anak sendiri adalah versi paling intens dari dunia pendidikan. Meski kadang rindu ruang kelas, ia tetap yakin pada pilihannya. Ketika kemudian mencoba berdagang untuk membantu ekonomi keluarga, ia menemukan kemampuan baru dalam dirinya, kemampuan untuk beradaptasi, bertahan, dan membangun sesuatu dari nol. Perubahan arah hidup itu justru membuatnya semakin tegar.
Etika Dagang Berbasis Pendidikan Islam: Warisan Tarbiyah yang Tak Pernah Hilang
Dalam dunia usaha yang penuh persaingan, Nur Aini membawa nilai-nilai Tarbiyah sebagai pedoman. Ia menjadikan kejujuran sebagai modal utama. Dalam setiap transaksi, ia selalu mengutamakan transparansi, memberikan pelayanan terbaik, dan menghindari praktik yang merugikan orang lain. Hal-hal kecil seperti menepati janji pengiriman, memberikan harga yang wajar, dan menjaga ucapan menjadi prinsip yang tidak pernah ia tinggalkan, karena baginya berdagang bukan hanya soal keuntungan, tetapi soal integritas.
Nilai-nilai psikologi pendidikan yang ia pelajari dahulu juga hadir dalam caranya memperlakukan pelanggan. Ia mampu membaca karakter, memahami kebutuhan mereka, dan membangun hubungan yang nyaman. Bahkan banyak pelanggan kembali bukan semata-mata karena barang, tetapi karena kepercayaan. Ini menunjukkan bahwa Tarbiyah tidak hilang dari jiwa seseorang, meskipun jalan hidupnya berubah. Ia tetap pendidik, hanya saja kini ia mendidik dengan cara yang berbeda: melalui etika, akhlak, dan keteladanan dalam bisnis.
Yang menarik adalah bagaimana ilmu kampus tetap hidup dalam dirinya.
Fiqh muamalah membuatnya jujur dalam jual beli.
Psikologi pendidikan membuatnya memahami karakter pelanggan.
Akhlak Tasawuf membuatnya sabar menghadapi rezeki yang naik turun.
“Saya mungkin bukan lagi guru di sekolah, tapi nilai-nilai Tarbiyah tetap saya pakai dalam usaha saya.”
Nur Aini membuktikan bahwa alumni Tarbiyah bisa sukses di mana saja, meski jalannya tidak lagi linear dengan jurusan. Fleksibilitas, keikhlasan, dan kemampuan beradaptasi adalah kelebihan seorang Tarbiyah sejati.
Dua Kisah, Dua Generasi, Dua Jalan, Satu Nilai yang Mengikat: Tarbiyah Mengajarkan Kita untuk Selalu Tumbuh
Jika perjalanan Alya dan Nur Aini dijajarkan, kita akan menemukan pelajaran luar biasa :
1. Pendidikan formal boleh sama, tetapi jalan hidup tidak harus identik.
Satu tetap menjadi guru.
Satu menjadi wirausahawan.
Dan keduanya tetap membawa nilai-nilai pendidikan Islam.
2. Linear atau tidak linear tidak menentukan kualitas hidup, yang menentukan adalah makna, etika, dan kesungguhan dalam menjalaninya.
3. Alumni FITK punya fleksibilitas kuat dalam beradaptasi, karena Tarbiyah bukan hanya membekali ilmu, tetapi karakter
4. Kampus terus berkembang mengikuti zaman.
Alumni lama melihat banyak perubahan positif. Alumni baru ikut merasakan atmosfer modernisasi kampus.
5. Tidak ada jalan hidup yang lebih baik, hanya jalan hidup yang berbeda.
Alya mendidik anak-anak.
Nur Aini mendidik keluarga.
Dua-duanya bermanfaat.
Penutup: Setiap Alumni Adalah Kisah, dan Setiap Kisah Pantas Diceritakan
Alya dan Nur Aini membuktikan bahwa perjalanan hidup tidak selalu lurus, tidak selalu mulus, dan tidak selalu sesuai rencana. Tetapi setiap perjalanan memiliki keindahan yang berbeda.
Seorang guru membentuk masa depan bangsa.
Seorang ibu membentuk masa depan keluarga.
Seorang pedagang membentuk etika dan kepercayaan di lingkungan sekitarnya.
Kisah Alya dan Nur Aini menunjukkan bahwa menjadi alumni FITK bukan hanya tentang gelar sarjana pendidikan. Tetapi tentang menjadi manusia seutuhnya, yang memahami nilai, memiliki integritas, dan menjalani hidup dengan pilihan yang matang.
Mereka mungkin berada di jalan yang berbeda.
Namun keduanya tetap mewakili wajah Tarbiyah:
*lembut,
* penuh dedikasi,
* berkarakter kuat,
* dan selalu bermanfaat bagi orang lain.
Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita, khususnya bagi kita yang berada di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Bahwa apa pun jalan hidup yang kelak kita pijak, baik tetap berada di ruang kelas, mengabdi sebagai pendidik, maupun menapaki profesi lain di luar dunia pendidikan, nilai-nilai Tarbiyah akan selalu menjadi suluh yang menerangi langkah kita.
Sebab menjadi bagian dari Tarbiyah bukan sekadar tentang gelar yang kita sandang, tetapi tentang karakter yang kita bawa, akhlak yang kita jaga, serta manfaat yang kita sebarkan kepada siapa pun yang kita temui. Dan seperti Alya dan Nur Aini, setiap dari kita pun menyimpan kisah dan perjuangan masing-masing yang layak dibagikan sebagai inspirasi.
Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk terus tumbuh, belajar, dan memberi manfaat, di mana pun Allah menempatkan kita. Aamiin Yaa Rabbal'alamiin
Komentar
Posting Komentar