Mengungkap Pendidikan di Gaza-Palestina Era Genosida Sekaligus Solusinya

 By : Patma Aulia

#Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Bagaimana Pendidikan Gaza Berlangsung Di Era Genosida? 

                   

Suara dari tanah yang terluka dengan harapan yang tak pernah padam. Tak terbayangkan bagaimana serangan genosida yang mulai berlangsung sejak 7 Oktober 2023 lalu sampai sekarang. Satu tahun telah berlalu, namun duka belum juga mereda. Entah sampai kapan ini akan berhenti  , tentunya sebagai seorang muslim dan muslimah yang tentunya ada ikatan saudara tak sanggup jika saudara- saudaranya di perlakukan tanpa adanya rasa kemanusiaan. Miris tentunya melihat hal ini, krisis di palestina terus saja memanggil hati kita bukan? Keadaan yang menimpa negeri palestina adalah sebuah situasi yang diwarnai oleh konflik berkepanjangan dan penderitaan mendalam. Di tengah segala kesulitan, rakyat palestina , termasuk anak-anak dan perempuan tetap teguh memperjuangkan hak-hak mereka, yaitu hak mempertahankan agama, hak untuk hidup dengan nyaman seperti manusia lainnya, dan tak lain juga hak untuk pendidikan. Meskipun, masa depan terasa begitu tak pasti. Satu tahun lebih sudah Gaza  mendapatkan serangan genosida dari Israel yang memberikan dampak yang sangat holistik terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan di Gaza.

Mengapa saya mengkhususkan tulisan ini untuk mengulik pendidikan Gaza di era genosida? Karena sudah sejauh ini konflik atau peperangan yang dilakukan oleh Israel terhadap Gaza, era genosida adalah era yang sangat memukul keras lebih dari pukulan sebelumnya dalam aksi menyerang dan menghabisi rakyat Gaza-Palestina.  Karena tercatat perang besar yang terjadi ada pada tahun 2008, 2012, 2014, 2021, yang menjadi puncaknya adalah era gempuran genosida yang dimulai sejak tahun 7 Oktober 2023 lalu. Menurut data kementerian kesehatan setempat, sejak serangan 7 Oktober 2023 lebih dari 42.600 orang terbunuh, dengan sebagian korbannya adalah wanita dan anak-anak, sementara itu 99.800 lainnya terluka. Lalu, bercermin dari serangan genosida yang terus berkecamuk di Gaza tersebut, Sudah tentu ribuan anak Palestina kehilangan keluarga, harta dan tentunya kehilangan tempat tinggal serta sekolah yang dimana sekolah adalah tempat berlangsungnya pendidikan.

Serangan konflik dengan aksi genosida ini telah merampas banyak hal, salah satunya adalah pendidikan yang semestinya berjalan dengan fungsinya. Namun, kini pendidikan di Gaza tak berjalan lagi dengan semestinya. Mengapa ? Karena tercatat sejak serangan genosida yang terjadi di 7 Oktober 2023 lalu, Israel sudah menghancurkan lebih dari 400 sekolah di Gaza yang kini beralih fungsi menjadi tempat pengungsian. Ini artinya sebanyak 88% dari seluruh fasilitas pendidikan di Gaza hancur.Situasi ini membuat sebanyak 620.000 warga palestina usia sekolah terancam tidak mendapatkan pendidikan.  

Sebanyak 75% sekolah, kampus, dan universitas telah hancur atau rusak, termasuk Universitas Israa di Kota Gaza yang menjadi pusat pembelajaran bagi lebih dari 4.000 murid pun dirobohkan oleh pasukan Israel pada Januari 2024. Kemudian lebih dari 1.500 mahasiswa dari universitas internasional di Gaza telah dicegah oleh Israel untuk menghadiri universitas mereka 13 bulan terakhir. Bagaimana dengan keadaaan anak-anak yang jenjang sekolah nya masih berada di usia 6-12 tahun. Sama halnya, seluruh sekolah telah diluluhlantakkan oleh Israel. Seluruh infrastruktur juga hancur akibat serangan genosida yang terjadi.

Lalu, bagaimana dengan pendidikan anak-anak di Gaza?         

Melihat keadaan yang menimpa rakyat Gaza, tak ada lagi bangunan yang tersisa untuk mengungsi lebih layak untuk tempat tinggal atau rumah, apalagi untuk dijadikan sarana pendidikan. Namun, walaupun mereka mengalami keterbatasan dalam hal fasilitas yang dibutuhkan. Guru atau pendidik yang ada di Gaza mengambil peran penting dalam mengkondisikan dan mengupayakan akan tetap berjalannya proses pendidikan itu. Dimana, terkait jejak yang saya lihat dalam beberapa vidio di media sosial bahwa pembelajaran di Gaza tetap berlangsung di tengah bangunan-bangunan yang hancur di serang oleh Israel. Di tengah kehancuran yang terjadi di wilayah Gaza, beberapa guru tetap menjalankan pendidikan kepada anak-anak Gaza yang diunggah pada tanggal 12 September 2024. Guru yang bernama Esraa Abu Mustafa menunjukkan ketabahan dan dedikasi yang luar biasa meski dengan kondisi yang penuh keterbatasan. 

Lalu, Bagaimana jika anak-anak di Gaza tidak melanjutkan pendidikan ?


Sebelum perang tereskalasi sejak 7 Oktober, anak-anak Palestina dikatakan berhasil dalam pendidikan. Tekad anak-anak Palestina untuk belajar sangat menakjubkan. Lebih dari 95% anak-anak di Palestina terdaftar dalam pendidikan dasar dan tingkat literasinya lebih tinggi dari Hong Kong dan Singapura (Save the Children). Namun, bagaimana pengaruh perang terhadap pendidikan anak-anak di Gaza saat genosida tereskalasi seperti hari ini? Mengutip International Journal of Psychology and Behavioral Sciences pada tahun 2024, pengaruh perang terhadap pendidikan anak-anak adalah sebagai berikut:

Perubahan besar sektor pendidikan akibat sekolah yang ditutup dan hancur serta stress dan trauma perang dapat menghambat pembelajaran dan perkembangan kognitif. Anak-anak mungkin akan tertinggal dalam hal keterampilan akademis dan kemampuan berpikir kritisnya. Paparan kekerasan dan trauma yang terus-menerus dapat mengakibatkan gangguan emosional dan psikologis seperti PTSD, kecemasan dan depresi. Hal ini juga berdampak pada kemampuan anak untuk mengatur emosi, sehingga menimbulkan masalah kesehatan mental jangka panjang. Stres dan trauma akibat perang, ditambah dengan kemungkinan gangguan dalam pendidikan dan komunikasi keluarga dapat berdampak pada perkembangan bicara dan bahasa yang sangat penting untuk komunikasi dan pembelajaran yang efektif.

Tak dapat dipungkiri, bahwa akibat serangan genosida, akan berdampak buruk terhadap pendidikan anak-anak palestina, tentunya mereka akan di bayang-bayangi oleh serangan-serangan yang mengenaskan dan memakan banyak korban jiwa setiap harinya. Kejadian itu juga langsung di saksikan oleh mata anak-anak yang masih sangat polos dengan kejamnya Israel. Anak-anak yang hanya bisa menyuarakan tangis mereka ketika kehilangan orang-orang yang di cintai dan berharga dalam hidupnya. Sungguh, bagaimana buruknya keadaan psikologis mereka tanpa ada pendidikan yang setidaknya dengan pendidikan itu mereka dapat sejenak mengalihkan jiwa-jiwa yang sakit dan penuh ketakutan. Suara-suara bom yang mengejutkan jiwa, pastilah memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental mereka juga. 

Lalu, siapa lagi yang menguatkan dan memberikan semangat serta motivasi bagi mereka untuk tetap kuat hati dan imannya dalam menjalankan kehidupan yang terus menerus di bayang-bayangi bom atau serangan genosida dari Israel. Untuk itu, pendidikan di palestina tidak boleh berhenti dan diputuskan. Agar anak-anak di Gaza setidaknya bisa merasakan kenikmatan dan kebahagiaan yang sama dengan anak-anak di luar wilayah mereka, yaitu Gaza. 

Solusi untuk pendidikan Gaza

Meskipun perang menghancurkan segalanya, namun pendidikan adalah hal yang penting untuk masa depan dan perkembangan kognitif anak-anak. Meskipun, harapan tak setinggi kenyataan yang ada dengan situasi kedepannya. Namun, meskipun begitu, pendidikan menjadi jembatan bagi anak-anak dalam menyembuhkan ketakutan, kesehatan mental yang menghiasi dunia kanak-kanaknya. Tak ada yang lebih kejam bagi seorang yang tak berdosa dan tak tahu apa-apa selain adanya manusia-manusia yang tak berhati nurani merampas segala yang berharga di hidupnya. Tatkala saya mengusap dada membaca  tulisan seorang anak yang mengatakan " Aku hanya ingin tahu, dimana dunia untuk kita? Apakah ini yang saya pelajari di sekolah tentang melindungi hak-hak anak ?" Membaca tulisan itu membuat saya benar-benar lansung merasakan kesedihan yang turut mengecam kebahagiaan mereka. 

Untuk itu, solusi agar pendidikan Gaza tetap bisa berlangsung adalah mengadakan bangunan tenda atau prefabrikasi akan dibutuhkan. Didukung dengan pasokan peralatan pendidikan. Selain itu, keterlibatan masyarakat juga penting untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, saling memiliki dan keamanan di kalangan anak-anak. Dengan melibatkan mereka dalam kegiatan masyarakat seperti seni dan budaya, olah raga, diskusi kelompok, maka mereka dapat berekspresi dan berbagi pengalaman serta membangun ketahanan. Sehingga, kegiatan ini tidak hanya dapat membantu emosional dan sosial mereka, tetapi juga menanamkan harapan dan hal positif. Kemudian, menghadirkan seorang guru untuk memberikan edukasi dengan menyelipkan unsur bermain dalam proses pendidikan, agar pendidikan di Gaza menjadi solusi dalam memberikan ilmu tanpa ada ketakutan lagi atas dibalik apapun yang terjadi




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Inspiratif Dua Alumni FITK UIN Sumatera Utara